Etika Ekonomi – Pengertian Ekonomi

Lorem ipsum dolor sit amet,sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, At vero eos et accusam et justo duo dolores et ea rebum. Lorem ipsum dolor sit amet, no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet. Stet clita kasd gubergren, no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet. no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet. no sea takimata sanctus est Lorem ipsum dolor sit amet. sed diam voluptua.

Kata ekonomi menurut Poerwadarminta dalam bukunya Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan dengan “pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan (produksi), pembagian (distribusi) dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (konsumsi)”. Menurut An Nabhani kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani kuno (Greek) yang bermakna: ”mengatur urusan rumah tangga”, dimana anggota keluarga yang mampu ikut terlibat dalam menghasilkan barang-barang berharga dan membantu memberikan jasa, lalu seluruh anggota keluarga yang ada ikut menikmati apa yang mereka peroleh, populasinya kemudian semakin banyak, mulai dari rumah ke rumah menjadi kelompok (community) yang diperintah oleh negara.

Muhammad Abdul Mannan mengutip kata-kata ekonomi dari Professor Robbins sebagai berikut: “Ilmu Ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan-kegunaan alternatif”.

Sedangkan Zainal Abidin Ahmad mengungkapkan perkataan ‘ekonomi’, adalah berasal dari bahasa Yunani, ‘oicos’ dan ‘nomos’. Oicos berarti ‘rumah’, sedangkan nomos berarti ‘aturan’. Jadi jelasnya bahwa ekonomi adalah aturan-aturan untuk menyelengga-rakan kebutuhan hidup manusia di dalam rumah tangga, baik dalam rumah tangga rakyat (volkshuishouding), maupun dalam rumah tangga negara (staatshuishouding).

Selanjutnya ia mengatakan bahwa di dalam bahasa Arab dinamakan ‘mu’amalah maddiyah’ ialah aturan-aturan tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengatur kebutuhan hidupnya, dan lebih tepat lagi dinamakan ‘iqtishad’ (اقتصاد). Ialah mengatur hidup manusia dengan sehemat-hematnya.

Karena luasnya kaedah ekonomi ini, maka umumnya pembahasan ilmu ekonomi terbagi kepada :

Ekonomi sebagai usaha hidup dan pencaharian masing-masing manusia, dinamakannya ‘ekonomie leven’, economical life wirschaff.

Ekonomi di dalam rencana suatu pemerintahan yang dinamakan economie politiek, political economy, atau wirschaff politiek.

Ekonomi di dalam teori dan pengetahuan, dinama-kan economise wetenschappelijk, economical science atau wirschaff wissenschaft.

 

Dengan jelas masalah-masalah ekonomi ini disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Malik:

لأن يأخذ احدكم حبله فيحتطب على ظهره خير من أن يأتى رجلا أعطاه الله من فضله فيسأله اعطاه او منعه (رواه مالك).

“Sungguh bahwa seseorang di antara kamu membawa tali (pagi-pagi hari) pergi berangkat mencari dan mengerjakan kayu api ke bukit-bukit, maka ia menjual (menolak meminta dan menjauhi kefakiran) dan memakannya dan mensedekahkannya, itu lebih baik lagi dari pada ia hidup meminta-minta kepada manusia lainnya”. Hadits telah diriwayatkan oleh Malik.

Dengan contoh yang sangat sederhana dan konservatif, Nabi Muhammad SAW dapat menjelaskan masalah-masalah ekonomi di dalam segenap bahagiannya :

1.    Mengerjakan kayu api, adalah berarti berusaha menambah produksi,

2.    Berusaha menjualnya adalah mengerjakan distribusi (pembagian),

3.    Memakannya adalah berarti memenuhi konsumsi (pemakaian),

4.    Mensedekahkannya kepada orang lain, adalah mengerjakan rencana sosial.

Hal yang demikian itu sesuai dengan teori ilmu ekonomi tentang tingkatan-tingkatan kemajuan perekonomian, bahwa pada mulanya pertama kali orang masing-masing memborong diri sendiri mengerjakan segala rencana ekonomi itu. Setelah luas lapangan ekonominya, barulah tiap-tiap rencana dikerjakan tersendiri dari pada rencana yang lainnya. Caranya sebagai berikut : Pada zaman dahulu, tiap-tiap orang menjadi produsen (pengusaha), dan masing-masing mereka juga menjadi konsumen (pemakai). Setelah perhubungan mereka sedikit menjadi luas, timbullah bahagian yang ketiga ialah distributor (pembagi), golongan saudagar. Pada mulanya manusia masih dapat mengerjakan sendiri ketiganya, yaitu dia yang mengusahakan (produsen), dia yang menjual (distributor) dan dia yang memakai (konsumen). Tetapi kemudian satu persatu berdiri sendiri, dikerjakan oleh orang banyak (produsen sendiri, distributor sendiri dan juga konsumen sendiri). Pada zaman modern ini ketiganya sangat luas lapangannya. Rencana ekonomi sudah banyak bercabang-cabang, dan tiap-tiap cabang itu tidak lagi dikerjakan oleh tenaga satu orang atau satu bangsa, tetapi dengan tenaga orang banyak, atau tenaga berbagai bangsa.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa yang dinamakan ekonomi ialah pengetahuan tentang kegiatan yang mengatur urusan harta kekayaan, baik yang menyangkut sektor produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan demikian jika kata ekonomi itu dikaitkan dengan kata Islam, maka yang dimaksud adalah pengetahuan tentang kegiatan manusia yang menyangkut harta kekayaan, baik dalam sektor produksi, distribusi maupun konsumsi yang berlandaskan hukum Islam. Pada abad modern ini dengan kemajuan meningkat, menghadapi era globalisasi, maka manusia dituntut untuk memiliki keterampilan dan keahlian masing-masing. Karena sumber daya manusia pada masa sekarang betul-betul harus diperhatikan supaya tingkat ekonominya jangan sampai ketinggalan oleh negara lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *