Ikan Berpotensi Cegah Infeksi Covid-19

Memasuki bulan Mei 2020 yang bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan, kasus Virus Corona di Indonesia kian meningkat. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menganjurkan masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan mengandung vitamin dan mineral, salah satunya adalah ikan.

Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR Muhamad Nur Ghoyatul Amin, M.Sc. memberikan informasi mengenai potensi yang terkandung dalam ikan untuk mencegah Covid-19.

“Melihat dari aspek nutrisi yang terkandung, iya, ikan memiliki potensi untuk mencegah infeksi dari bakteri, jamur, dan virus,” ujar Ghoyatul.

Nutrisi pada ikan yang bisa mencegah infeksi pathogen itu merujuk pada artikel berjudul Potential Interventions for Novel Coronavirus in China: A Systematic Review. Artikel tersebut membahas potensi nutrisi makro dan mikro nutrien yang berperan dalam penanganan infeksi virus secara umum, yakni Vitamin A, B, C, D, E, asam lemak omega 3, dan mineral seperti salinium, zat besi, dan zinc.

“Dari daftar nutrisi tersebut, ikan sangat berpotensi dijadikan metode pencegahan untuk mengurangi resiko dari infeksi virus,” ujar Ghoyatul yang merupakan peneliti di bidang food chemistry.

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, ikan merupakan segala jenis organisme hidup yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam perairan. Ikan tak hanya ikan bersirip seperti ikan bandeng, tuna, dory, nila, patin, lele; biota akuatik lainnya seperti udang, timun laut, cumi-cumi, gurita, dan rumput laut termasuk dalam kategori ikan.

Contoh ikan yang mengandung asam lemak omega 3 dan omega 6 adalah ikan tuna, mackerel, patin, dan salmon.

“Contoh ikan lainnya adalah ikan selar, bawal, kurisi, ikan bilis, ikan buntal, ikan boso, ikan peperek, ikan layur, dan ikan kerong yang dapat ditemukan di laut Jawa,” tambahnya.

Vitamin D banyak terdapat di dalam ikan-ikan laut. Namun dilihat dari contoh molusca, seperti kerang, cumi-cumi, memiliki vitamin A dan vitamin B kompleks yang tinggi; vitamin D dan E sangat rendah; tetapi di udang juga mencakup vitamin tersebut.

Olahan perikanan dapat diolah dengan cara digoreng, dikukus dan dipanggang. Dari ketiga proses tersebut, Ghoyatul menyebutkan, nutrisi dalam ikan lebih tahan jika ikan dikukus ataudisteam. “Yang paling banyak mengurangi nutrisi itu sebenarnya adalah penggorengan,” ujarnya.

Menurutnya, Negara-negara di Asia pada umumnya lebih suka produk perikanan yang digoreng karena rasanya yang gurih. Hal itu disebabkan adanya kombinasi antara protein dan asam lemak pada ikan ditambah dengan reaksi-reaksi kimia dalam penggorengan.

Tak lupa, Ghoyatul mengingatkan kepada konsumen untuk cerdas memilih kualitas ikan. Jangan sampai ikan-ikan diambil dari lingkungan yang berasal dari daerah yang mengandung polusi tinggi seperti logam berat dan bakteri merugikan. (*)

Penulis : R. Dimar Herfano Akbar
Editor : Binti Q Masruroh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *