Investasi Untuk Kaum Muda

Rencana keuangan adalah sebuah panduan yang memuat berbagai tujuan keuangan, seperti membeli rumah tinggal dan persiapan dana pernikahan, yang diikuti dengan strategi berutang, menabung, investasi, dan berasuransi.

Setiap orang sebaiknya memiliki rencana keuangan dalam berbagai tahapan hidup yang dilalui, tak terkecuali kalangan muda.

Menurut hasil survei dari beberapa literatur, kalangan muda saat ini, yaitu yang saat ini berusia 18 tahun hingga 35 tahun, memiliki beberapa karakteristik, seperti punya perilaku konsumtif dan mudah terbawa pengaruh gaya hidup yang tinggi.

Lebih jauh lagi, kalangan muda cenderung kurang terampil dalam mengelola keuangan akibat lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Oleh karena itu, berinvestasi demi masa depan yang sejahtera menjadi sangat penting mengingat pasti sulit untuk menurunkan gaya hidup yang diadopsi saat ini.

Hal ini juga seperti yang diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat berbicara di hadapan peserta seminar nasional Asosiasi Dana Pensiun Indonesia 2018 di Jakarta. Beliau bahkan mengimbau agar kalangan muda mulai mengurangi pengeluaran gaya hidup, seperti kopi kekinian, agar dapat menyisihkan penghasilan untuk masa depannya.

Kalangan muda sebaiknya memahami bahwa tingkat kenaikan harga atau inflasi biaya kebutuhan hidup akan terus merangkak naik. Dalam jangka panjang, risiko terberat yang sangat ingin dihindari adalah tidak mampu pensiun dengan nyaman. Tanpa punya kesadaran untuk berinvestasi, hampir mustahil seseorang dapat hidup nyaman tanpa beban pada masa pensiun.

Di buku Make It Happen, saya mengilustrasikan, ada seorang pekerja muda berusia 30 tahun dan punya penghasilan Rp 10 juta. Saat ini, dia rajin menabung 10 persen dari gaji bulanan ke dalam tabungan dengan imbal hasil 5 persen per tahun. Di usia 55 tahun, saldo tabungan tersebut akan menjadi Rp 644 juta. Jika mengacu pada nominal tahun ini, saldo tersebut cukup lumayan, bukan? Namun, apabila angka harapan hidupnya hingga usia 70 tahun, saldo tabungan tersebut hanya sanggup membiayai pengeluaran sebesar Rp 250.000 setara nilai masa kini. Bayangkan, menabungnya Rp 1 juta setiap bulan, hanya bisa belanja senilai Rp 250.000 pada masa depan!

Pada umumnya, setelah melihat fakta di atas, kaum muda akan mencanangkan diri harus mulai berinvestasi. Sayangnya, hambatan berupa gagal disiplin atau penghasilan malah digunakan pengeluaran gaya hidup lain.

Oleh karena itu, kaum muda harus mau belajar dari kaum muda lain yang berhasil menjadi young supersavers.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencapai kondisi tersebut. Pertama, supersavers harus mau mengikuti program debit otomatis dari rekening gaji ke dalam rekening untuk berinvestasi.

Program ini kerap dikenal dengan sistem auto-invest, installment, monthly subscription, dan lainnya. Untuk mengaktifkan program ini, calon investor harus menghubungi bank ataupun manajer investasi terkait.

Kedua, mencanangkan target investasi minimal 15 persen dari penghasilan. Biasanya, setiap bulan para pekerja sudah dipotong 5,7 persen untuk program jaminan hari tua dan tambahan lagi apabila ada program dana pensiun.

Namun, sayangnya hal ini mungkin tidak cukup untuk mendukung gaya hidup yang sama pada masa depannya. Saya selalu katakan, apabila mau diikuti, gaya hidup tidak akan ada habisnya. Seorang supersavers pasti tidak mau rugi karena mereka pasti mau menyisihkan penghasilannya saat ini agar dapat mempertahankan gaya hidup serupa pada masa depan.

Ketiga, supersavers harus rajin melakukan evaluasi atas kondisi keuangannya. Apabila setiap tahun terdapat kenaikan penghasilan, seharusnya porsi untuk berinvestasi juga ikut meningkat secara nominal.

Keempat, harus terus mau belajar dan mengikuti perkembangan pasar. Investasi merupakan hal yang sebaiknya dipelajari, bukan sekadar mengikuti perasaan belaka. Oleh karena itu, supersavers sebaiknya mau untuk terus memperdalam ilmu dengan rajin baca buku, baca blog, dan mengikuti pelatihan keuangan.

Selain itu, supersavers juga sebaiknya tetap berpegang pada rencana keuangan. Bagaimanapun, investasi bukan merupakan tujuan akhir dalam usaha akumulasi kekayaan seseorang.

Terakhir, memberi reward untuk diri sendiri. Investasi paling menyenangkan apabila berhasil mewujudkan berbagai impian. Itu sebabnya, saya sarankan agar kaum muda memiliki tujuan investasi jangka pendek yang dapat diambil untuk liburan, membeli barang yang agak mahal, dan lainnya.

Investasi akan memberikan hasil terbaik apabila dilakukan dalam jangka panjang. Artinya, kalangan muda memiliki waktu yang paling baik untuk memulai investasi dibandingkan dengan generasi lain.

Seorang first jobber akan memiliki keuntungan untuk dapat mengalokasikan setidaknya 20 persen dari penghasilan setiap bulannya. Apabila seseorang menginvestasikan gaji pertamanya sejak usia 22 tahun dan pensiun usia 55 tahun, terdapat 30 tahun untuk berinvestasi.

Jika setiap bulan supersavers berinvestasi Rp 500.000 ke dalam reksa dana saham dengan ekspektasi imbal hasil rata-rata 15 persen per tahun, saat usia 55 tahun, secara matematis akan memiliki saldo investasi sejumlah Rp 5,4 miliar.

Jadi, kalangan muda sebaiknya mulai memahami, mengapa harus berinvestasi dan mengapa harus dilakukan sedini mungkin. Pahami bahwa dorongan untuk konsumsi keinginan gaya hidup pasti selalu ada, tetapi tetap alokasikan sebagian penghasilan hari ini untuk masa depan yang lebih sejahtera.

Bagaimanapun, semua orang pasti ingin hidup nyaman dan tetap memiliki gaya hidup yang menyenangkan, bukan? Live a beautiful life!

=======

Oleh : PRITA HAPSARI GHOZIE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *