Kebijakan Pangan di Negara Arab

Di tengah deraan pandemi Covid-19, yang juga belum diketahui kapan akan berakhir, isu mengamankan logistik – terutama bahan makanan – menjadi isu strategis. Semua negara memiliki cara sendiri untuk mengamankan stok logistik tersebut. Tak terkecuali dunia Arab.

Negara-negara di kawasan itu juga menjadikan logistik sebagai isu strategis dan berusaha secara maksimal untuk mengamankannya, terutama pada bulan Ramadhan ini dan saat Idul Fitri nanti.

Namun, upaya mengamankan bahan pangan di Mesir dan Sudan pada masa pandemi ternyata tidak mudah. Untuk mengamankan ketersediaan logistik, Pemerintah Maroko membentuk komite khusus bernama “Komite Kewaspadaan Ekonomi”. Komite itu bertugas mengawasi dan mengontrol kesiapan logistik, seperti gula, teh, susu, minyak dan keju, selama pandemi.
Kementerian Industri dan Perdagangan Maroko menegaskan, stok bahan pokok sudah cukup dan mampu memenuhi kebutuhan pasar, serta mampu terus mensuplai kebutuhan, karena pabrik terus memproduksi.

Seperti diketahui, Maroko terus mempertahankan indutri bahan pangan untuk mampu mencapai posisi swasembada pangan dan mengamankan pasokan bahan pangan.

Kementerian Pertanian Maroko mengklaim, suplai dan produksi produk pertanian pada musim Covid-19 ini, seperti tomat, bawang merah dan kentang, tidak terputus. Selain itu mereka juga mampu terus memasok produk pertanian hingga empat bulan kedepan.

Kementerian Pertanian Maroko juga mengungkapkan, stok bahan impor mencukupi sampai empat bulan mendatang, seperti gandum, jagung, dan kacang-kacangan.

Di Maroko dengan penduduk sekitar 36 juta jiwa, pemerintah mengatakan, mampu menciptakan kestabilan dalam pengadaan bahan pangan di pasar, terutama pada bulan Ramadhan ini, serta menjamin ketersediaan pasokan hingga beberapa bulan mendatang.

Seperti Maroko, Tunisia, Aljazair, Jordania, dan Kuwait juga mengklaim memiliki stok logistik yang cukup untuk beberapa bulan mendatang, seperti bahan pangan dan obat-obatan.

Di Aljazair dengan penduduk sekitar 42 juta jiwa, sempat terjadi kecemasan terkait stok gandum yang menjadi bahan pokok untuk membuat roti yang merupakan makanan pokok rakyat Aljazair.

Presiden Aljazair, Abdelmajid Tebboune, segera turun tangan menenangkan rakyat Aljazair. Ia menegaskan, negara mampu memenuhi kebutuhan gandum untuk rakyat.

Ia menyampaikan, stok gandum saat ini masih cukup dikonsumsi hingga lima bulan mendatang. Tebboune juga mengungkapkan, negara memiliki cadangan devisa sebanyak 60 miliar dollar AS yang cukup menjaga keberlangsungan impor bahan pangan yang tidak tersedia di dalam negeri.

Pengamat ekonomi Aljazair, Gamal Sherfi mengatakan, kecemasan yang melanda rakyat Aljazair bukan karena kekurangan gandum, tetapi buruknya distribusi yang menyebabkan satu wilayah mendapat suplai yang cukup dan di wilayah lain tidak.

Adapun produk pertanian, seperti sayur mayur dan buah-buahan, Aljazair dikenal mampu berswasembada sendiri tanpa harus impor, karena lahan pertanian di negara itu cukup luas.

Sementara itu di Tunisia yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa, terdapat tiga ‘lumbung’ logistik strategis yang cukup untuk pasokan selama empat bulan kedepan. Ketiga ‘lumbung’ strategis itu adalah energi, pangan dan obat-obatan. Pemerintah Tunisia telah menyiapkan dana 18 juta dollar AS untuk transaksi pembelian logistik yang berada di tiga sektor itu, jika sewaktu dibutuhkan pasar.

Kementerian pertanian Tunisia dalam keterangan persnya menyampaikan, Tunisia memiliki stok logistik yang mampu memenuhi kebutuhan hingga beberapa bulan mendatang, dan rakyat Tunisia tidak perlu cemas..
Menurut kementerian pertanian Tunisia, produksi gandum nasional bisa untuk mencukupi kebutuhan selama delapan bulan.

Tidak mudah

Agak berbeda dengan mitranya di kawasan, Mesir dengan jumlah penduduk mencapai 100 juta jiwa, misi mengamankan pasokan logistik pada musim wabah Covid-19 tidaklah mudah. Di masa pandemi, Mesir terpaksa memperkecil ekspor bahan pangan untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri..

Kementerian perdagangan Mesir pada bulan Maret lalu memutuskan, menghentikan ekspor legum (sejenis kacang) selama tiga bulan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Namun Kementerian Logistik dan Perdagangan Dalam Negeri Mesir menyampaikan, semua bahan pokok tersedia secara aman untuk beberapa bulan mendatang, seperti minyak goreng, gula, beras, mie, teh, dan kopi.
Mesir dikenal pengimpor bahan pokok, seperti gandum. Mesir mengimpor 60 persen kebutuhan gandumnya.

Menurut pengamat ekonomi Mesir, Ismail Turki, stok logistik strategis Mesir cukup aman untuk beberapa bulan mendatang, namun Mesir akan menghadapi bahaya dalam cadangan logistiknya jika krisis akibat Covid-19 ini berkepanjangan, lebih dari enam bulan.

Adapun Sudan dengan penduduk 41,8 juta jiwa juga tidak mudah mengamankan stok logistik strategisnya. Produksi gandum di Sudan tahun ini hanya mencapai 800 ribu ton, sedangkan konsumsi gandum dalam negeri mencapai 1,5 juta ton. Gandum merupakan utama untuk membuat roti yang menjadi makanan pokok di Sudan dan negara-negara Arab lain.

Menteri perdagangan dan industri Sudan, Abbas Madani mengatakan, komite darurat akan menyampaikan kepada publik – secara berkala – stok pangan dan logistik lainnya, seperti gula, tepung, minyak goreng, kacang, dan jagung.
Komite darurat adalah komite yang dibentuk kementerian perdagangan dan industri untuk mengawasi dan mengamankan logistik strategis pada masa pandemi ini.

Di Jordania dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa, terus dilakukan evaluasi tentang stok logistik strategis negara itu. Menteri Perdagangan, Indutri dan Logsitik Jordania, Tareq al-Hamouri mengatakan, stok logistik strategis di Jordania, seperti beras, gandum dan gula, sangat aman untuk kebutuhan enam bulan hingga satu tahun kedepan. Ia menyebut, stok sayuran, ayam, telur ayam, dan daging, cukup untuk delapan bulan kedepan.

Raja Jordania, Abdullah II, meminta pemerintah mempelajari cara memproduksi bahan pangan di dalam negeri dengan berkoordinasi dengan pihak swasta sehingga Jordania bisa mengamankan stok pangannya dalam keadaan apa pun.

Di Kuwait dengan penduduk sekitar 4 juta jiwa, pemerintah mengatakan, stok logistik strategis cukup aman untuk enam bulan kedepan. Menteri perdagangan dan industri Kuwait, Khaled al-Rawdhan menyerukan, segenap penduduk tidak menimbun bahan pangan pokok pada musim Covid-19 ini, karena bahan pangan tersedia dalam jumlah besar di Kuwait.

Ia mengatakan, ada 37 gudang penampungan yang penuh dengan berbagai produk pangan. Ia juga mengungkapkan, Kuwait kini memiliki stok 7,5 juta masker.

Kementerian Perdagangan dan Industri Kuwait menyerukan, semua pabrik yang memproduksi bahan pangan, agar beroperasi secara maksimal untuk mengamankan pasokan bahan pangan di dalam negeri. Selain itu, Kementerian Perdagangan dan Industri Kuwait melarang ekspor bahan pangan dan medis ke luar negeri, untuk mengamankan kebutuan dalam negeri.

======

Oleh MUSTHAFA ABD RAHMAN DARI KAIRO, MESIR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *