MAKALAH – DESAIN PENELITIAN

PENGERTIAN DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian adalah suatu rencana penelaahan/penelitian secara ilmiah dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian atau Identifikasi Masalah. Maka dapat dikatakan bahwa desain penelitian adalah menentukan apa yang akan diobservasi dan dianalisis, kenapa dan bagaimana? Dalam desain penelitian ini peneliti diharuskan memberikan alasan-alasan yang jelas atau ilmiah mengenai pilihannya tersebut (Zulganef, 2008: 118).

TUJUAN STUDI
Tujuan penelitian adalah pengembangan teori dan pemecahan masalah. Kedua tujuan penelitian tersebut bersifat umum. Penelitian, disamping itu, secara lebih spesifik menyatakan tujuan studi atau pengujian (Indriantoro dan Supomo, 2002: 87). Secara umum, tujuan/jenis penelitian dapat berupa Exploratory, Descriptive, atau Explanatory (Zulganef, 2008: 119).
1. Explanatory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:

  • Bertujuan menghubungkan atau menjelaskan antara dua variable, misalkan penelitian yang bertema hubungan atau pengaruh.
  • Bertujuan membuktikan hipotesis atau menguji sebuah teori, misalkan menguji teori motivasi.

2. Exploratory dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:

  • Tidak banyak informasi atau penelitian yang sama mengenai situasi yang hendak ditelaah.
  • Memerlukan in-depth interview atau variabel yang diteliti belum dikenal luas.Cenderung tidak terstuktur, karen tujuannya adalah memunculkan hipotesis untuk penelitian lebih lanjut.
  • Relatif lebih ketat dibandingkan deskriptif dan eksplanatori, karena eksploratori tidak terstuktur dan terarah seperti halnya eksplanatori, maka penelitian ini memerlukan validasi yang sangat kuat.

3. Descriptive dilakukan ketika peneliti menghadapi hal-hal sebagai berikut:

  • Ketika peneliti hanya ingin menggambarkan suatu fenomena saja. Misalkan fenomena pengambilan keputusan disebuah perusahaan.\
  • Ketika peneliti tidak menguji teori atau hipotesis.
  • Cenderung tidak terstuktur, karena tujuannya adalah hanya menggambarkan suatu fenomena saja.

TIPE HUBUNGAN ANTAR VARIABEL
Tipe hubungan antar variabel yang diteliti dapat berupa hubungan korelasional, yaitu asosiasi antara variabel yang satu dengan variabel lainnya yang bukan merupakan hubungan sebab-akibat. Perbedaan antara kedua tipe hubungan tersebut dapat dilihat dari karakteristik hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Jika variabel dependen dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen tertentu, maka hubungan antara kedua variabel tersebut merupakan hubungan sebab-akibat. Jika terdapat banyak variabel independen yang menjelaskan atau mempengaruhi variabilitas suatu variabel dependen, maka tipe hubungan antar variabel yang paling mungkin adalah berupa hubungan korelasional.

Gambar  Tipe Hubungan Antar Variabel

LINGKUNGAN (SETTING) PENELITIAN

Desain penelitian dilihat dari lingkungan studi dapat dikelompokkan menjadi 3 (Suliyanto, 2009: 72), yaitu:

  1. Studi lapangan
    Dalam desain ini peneliti hanya mengamati hubungan antarvariabel yang ada di lapangan. Dengan demikian, keterlibatan peneliti dalam desain ini sangat rendah karena sifatnya hanya pengamatan.
    Contoh:
    Riset untuk mengetahui pengaruh Indeks Prestasi Mahasiswa dengan waktu tunggu dalam mendapatkan pekerjaan.
  2. Eksperimen lapangan
    Dalam desain ini, peneliti melakukan manipulasi terhadap variabel tertentu dalam lingkungan alamiah untuk mengetahui akibat yang ditimbulkannya. Oleh karena peneliti melakukan proses manipulasi variabel maka keterlibatan peneliti lebih tinggi.
    Contoh:
    Riset untuk mengetahui pengaruh program pelatihan terhadap produktivitas kerja. Dalam riset ini karyawan dibagi menjadi dua, yaitu karyawan yang telah dilatih dan karyawan yang belum dilatih.
  3. Eksperimen laboratorium
    Dalam desain ini, peneliti membuat lingkungan buatan untuk menguji hubungan sebab akibat antarvariabel. Dengan demikian, dalam desain ini keterlibatan peneliti akan sangat tinggi.
    Contoh:
    Riset untuk mengetahui pengaruh suhu ruangan terhadap produktivitas karyawan. Kondisi suhu ruangan dibuat sedemikian rupa untuk dicobakan kepada beberapa karyawan untuk melakukan aktivitas.

Gambar Setting Penelitian

 

UNIT ANALISIS

Unit analisis, sering dinamakan juga subjek atau objek penelitian, adalah sumber informasi mengenai variabel yang akan diolah dalam penelitian (pembuktian hipotesis) (Zulganef, 2008: 121). Unit analisis merujuk pada tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap analisis data selanjutnya (Sekaran, 2006: 173).

Misalnya, pernyataan masalah berfokus pada bagaimana meningkatkan tingkat motivasi karyawan secara umum, maka kita memerhatikan individu karyawan organisasi. Dalam hal ini, unit analisis adalah individu. Jika peneliti berminat mempelajari interaksi dua orang, maka beberapa kelompok dua orang atau pasangan akan menjadi unit analisis. Analisis terhadap hubungan atasan-bawahan di tempat kerja merupakan contoh yang baik dari pasangan sebagai unit analisis. Tetapi, jika pernyataan masalah berkaitan dengan efektivitas kelompok, maka unit analisis adalah pada tingkat kelompok. Misalnya, kita mengumpulkan data dari semua orang yang terbagi atas enam kelompok untuk melihat perbedaan di antara keenam kelompok tersebut. Bila kita membandingkan departemen yang berbeda dalam organisasi, maka analisis data akan dilakukan pada tingkat departemen. Demikian pula jika fokus penelitian pada perilaku organisasional, maka unit analisisnya adalah tingkat organisasional.
Contoh lain dalam penelitian yang difokuskan pada harga saham suatu perusahaan (unit analisis tingkat perusahaan), harga saham dari perusahaan-perusahaan dalam satu industri (tingkat industri). Penelitian-penelitian mengenai kultur dapat menggunakan unit analisis berbagai tingkat, antara lain: tingkat negara (kebangsaan), organisasional, departemen, atau kelompok unit kerja. Unit analisis yang lain yaitu artefak sosial, dimana peneliti menelaah segala sesuatu yang dihasilkan oleh kehidupan sosial atau perilaku anggota komunitas sosial (interaksi sosial), misalkan: buku, puisi, atau lagu.

Gambar Unit Analisis

 

HORISON WAKTU

Data penelitian dapat dikumpulkan sekaligus pada periode tertentu (satu titik waktu) atau dikumpulkan secara bertahap dalam beberapa periode waktu yang relatif lebih lama (lebih dari dua titik waktu), tergantung pada karakteristik masalah penelitian yang akan dijawab (Indriantoro dan Supomo, 2002: 95).

  1. Studi Satu Tahap (One Shot Study)
    Penelitian yang datanya dikumpulkan sekaligus. Misal, peneliti mengumpulkan data penelitian untuk mengetahui preferensi konsumen terhadap sejumlah merk produk. Pengumpulan data dilakukan sekaligus melalui metode survei.
  2. Studi Cross Sectional – Studi Time Series
    Studi cross sectional yaitu studi untuk mengetahui hubungan komparatif beberapa subyek yang diteliti pada waktu tertentu. Misalnya, studi perbandingan mengenai profitabilitas lima perusahaan pada tahun tertentu. Berbeda dengan studi time series yang lebih menekankan pada data penelitian berupa data rentetan waktu. Misalnya, penelitian mengenai perkembangan penjualan suatu perusahaan selama lima tahun terakhir. Studi komparatif yang lebih kompleks dapat berupa kombinasi antara studi cross sectional dengan studi time series.
  3. Studi Beberapa Tahap atau Studi Jangka Panjang (Longitudinal Study)
    Studi ini umumnya memerlukan waktu lebih lama dan usaha lebih banyak dibandingkan dengan tipe studi satu tahap. Misal, peneliti ingin mengetahui dan menjelaskan bagaimana peran akuntansi dalam membentuk budaya perusahaan tempat akuntansi dipraktikkan. Peneliti melakukan pengamatan intensif terhadap realitas (praktik) akuntansi pada perusahaan tertentu dalam jangka waktu relatif lama.

 

PENGUKURAN CONSTRUCT
Construct merupakan abstraksi dari fenomena atau realitas yang untuk keperluan penelitian harus dioperasionalkan dalam bentuk variabel yang diukur dengan berbagai macam nilai. Construct dapat diukur dengan angka atau atribut yang menggunakan skala tertentu (Indriantoro dan Supomo, 2002: 96).

Skala Pengukuran
Skala dalam riset sebenarnya digunakan untuk memberikan nilai pada satuan atribut yang diukur. Ada empat tingkatan skala pengukuran dalam riset bisnis (Suliyanto, 2009: 86), yaitu:

  • Skala Nominal Skala yang hanya digunakan untuk memberikan kategori saja. Jika satu indikator sudah masuk pada satu kategori maka tidak mungkin masuk ke kategori yang lain. Contoh: jenis kelamin, status perkawinan, agama.
  • Skala Ordinal Skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat antar tingkatan. Akan tetapi, jarak atau interval antar tingkatan belum jelas. Contoh: tempat parkir Ambarukmo Plaza lebih baik dari tempat parkir Lippo Plaza.
  • Skala Interval Skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat antar tingkatan. Pada skala ini jarak atau interval antar tingkatan sudah jelas, tetapi belum memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak. Contoh: skala dalam termometer, skala dalam jam/penanggalan.
  • Skala Rasio Skala pengukuran yang sudah dapat digunakan untuk menyatakan peringkat antar tingkatan. Pada skala ini jarak atau interval antar tingkatan sudah jelas dan memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak. Contoh: total penjualan bersih perusahaan, jumlah karyawan

Gambar Skala Pengukuran

Metode Pengukuran Sikap (Attitude Measurement Method)

Komponen sikap dapat dijelaskan melalui tiga dimensi: afektif, merefleksikan perasaan atau emosi seseorang terhadap suatu obyek; kognitif, menunjukkan kesadaran seseorang terhadap atau pengetahuan mengenai obyek tertentu; dan komponen-komponen perilaku, menggambarkan suatu keinginan-keinginan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan. Berikut ini metode-metode yang sering digunakan dalam pengukuran construct sikap, yaitu (Indriantoro dan Supomo, 2002: 102):

  1. Skala Sederhana (Simple Attitude Scale)
    Metode pengukuran sikap yang paling sederhana adalah skala sederhana yang menggunakan skala nominal, misal: setuju atau tidak setuju, ya atau tidak. Tipe skala ini digunakan terutama jika kuisioner penelitian berisi relatif banyak butir pertanyaan, tingkat pendidikan responden rendah, atau alasan yang lain.
  2. Skala Kategori (Category Scale)
    Merupakan metode pengukuran sikap yang berisi beberapa alternatif kategori pendapat yang memungkinkan bagi responden untuk memberikan alternatif penilaian. Tipe-tipe skala kategori yang umumnya digunakan untuk mengukur sikap responden yang berkaitan dengan kualitas, urgensi, menarik, kepuasan, frekuensi.
  3. Skala Likert (Likert Scale)
    Merupakan metode yang mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau ke-tidaksetujuan-nya terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Skala Likert umumnya menggunakan lima angka penilaian, yaitu: sangat setuju, setuju, tidak pasti atau netral, tidak setuju, sangat tidak setuju.
  4. Skala Perbedaan Semantis (Semantic Differential Scale)
    Merupakan metode pengukuran sikap dengan menggunakan skala penilaian tujuh butir yang menyatakan secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrem. Dua kutub ekstrem yang dinyatakan dalam metode ini antara lain dapat berupa penilaian mengenai: baik – buruk, kuat – lemah, modern – kuno. Metode pengukuran ini umumnya digunakan untuk mengetahui sikap penilaian responden terhadap merk dagang, produk, pekerjaan, dan dimensi construct yang lain-lain.
  5. Skala Numeris (Numerical Scale)
    Merupakan metode yang terdiri atas 5 atau 7 alternatif nomor untuk mengukur sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Skala numeris pada dasarnya tidak berbeda dengan skala perbedaan semantis, karena juga menggunakan dua kutub penilaian yang ekstrem diantara alternatif nomor.
  6. Skala Grafis (Graphic Rating Scale)
    Merupakan metode pengukuran sikap yang disajikan dalam bentuk grafis atau gambar. Metode ini menyatakan penilaian responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu dengan titik atau angka tertentu yang terletak di dalam gambar atau grafik penilaian.

 

Daftar Pustaka

Buckley, J. W., Buckley, M. H., & Chiang, H. (1976). Research Methodology & Business Decisions. Canada: National Association of Accountants and The Society of Management Accountants of Canada.Crates, H. (2012, March 8).

Hyppo Crates for Accounting : TINJAUAN UMUM PENELITIAN. Diambil kembali dari Hyppo Crates for Accounting: http://hpcrates.blogspot.co.id/2012/03/tinjauan-umum-penelitian.html

Hartono, J. (2014). METODOLOGI PENELITIAN BISNIS: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman. Yogyakarta: BPFE.

Indriantoro, N., & Supomo, B. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi Dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE.

Irawan, P. (2009). Metode Penelitian. Banten: Universitas Terbuka.

Juliandi, A., Irfan, & Manurung, S. (2014). Metodologi Penelitian Bisnis: Konsep dan Aplikasi. Medan: UMSU PRESS.

Kerlinger, F. N. (1986). Foundations of Behavioral Research (3th ed.). New York, USA: Holt, Rinehart and Winston.

Kuncoro, M. (2009). Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Jakarta: Erlangga.

Morissan. (2012). Metode Penelitian Survei. Jakarta: Kencana.

Murdick, R. F. (1966). Business Research: Concepts and Practice. Pennsylvania,USA: International Texbook Co.

Sekaran, U. (2013). Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta: Salemba.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Suliyanto. (2009). Metode Riset Bisnis. Yogyakarta: ANDI.

Zikmund, W. G. (1994). Business Research Methods (4th ed.). USA: The Dryden Press Harcourt Brace College Publishers.

Zulganef. (2008). Metode Penelitian Sosial dan Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *